TAWADHU'
DAN MENGHINAKAN DIRI
Kita
sering mendengar istilah tawadhu' dan menghinakan diri. Keduanya sangat berbeda. Sifat
tawadhu' muncul karena atas dasar ilmu dan pengetahuannya kepada Alloh
عزّوجلّ dan karena pengagungan dan kecintaan
kepadaNya serta kesadaran mengintropeksi terhadap aib
pribadi.
Semua
hal tersebut melahirkan sifat tawadhu' dalam dirinya. Hatinya tunduk kepada
Alloh سبحانه و تعالي, patuh dan berserah diri serta mempunyai
sifat kasih sayang kepada manusia. Ia melihat tidak mempunyai keutamaan atas
orang lain dan ti-dak merasa benar sendiri atas orang lain. Akhlak semacam ini
hanyalah pemberian Alloh عزّوجلّ kepada hamba-Nya yang dicintai dan yang
dimuliakan serta dekat kepadaNya.
Adapun
menghinakan diri adalah merendahkan dan menghinakan dirinya kepada orang lain
untuk meraih bagian dan kelezatan syahwatnya. Seperti perendahan diri karyawan
karena ingin mendapat sesuatu yang diinginkan dari atasannya, kepatuhan orang
yang diajak maksiat kepada orang yang mengajaknya, atau kepatuhan orang yang
ingin meraih bagian dunia kepada orang yang ia harapkan.
Semua
ini adalah bentuk penghinaan diri dan bukan tawadhu'. Alloh عزّوجلّ hanya mencintai orang-orang yang tawadhu'
dan membenci perendahan dan penghinaan diri.1
Imam
Ahmad bin Abdurrahman al-Maqdisi رحمه الله mengatakan: "Sikap pertengahan adalah
dengan tawadhu' tanpa merendahkan diri, dan ini adalah terpuji. Sikap tawadhu'
yang terpuji adalah dengan berbuat adil, yaitu memberikan kepada setiap orang
yang mempunyai kedudukan haknya."2
[Sumber: Majalah Al-Furqon No.103 Ed.11 Th.
Ke-9_1431/2010]
Oleh: Ustadz Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin
Luqman
Semoga bermanfaat…Mari Belajar Islam
1.
Ar-Ruuh
hlm.273, Ibnul Qoyyim
2. Mukhtashor
Minhajul Qoshidin
hlm.298, Tahqiq: Ali Hasan Ali Abdul Hamid






0 komentar:
Posting Komentar